Dampak COVID-19 terhadap perekonomian Indonesia



International Monetary Fund atau IMF menyatakan ekonomi global saat ini tengah mengalami krisis akibat pandemi COVID-19. Akibatnya hampir seluruh negara mengalami kelumpuhan ekonomi. Lalu, apakah Indonesia tekena dampak krisi global tersebut?

Jawabannya adalah iya, kelumpuhan ekonomi ini berdampak besar pada semua sektor yang ada. 
Mulai dari produksi dan daya beli masyarakat. Banyak masyarakat yang merasakan kerugian dari dampak pandemi ini, terlebih untuk masyarakat kecil.
Saat ini di Indonesia diberlakukan social distancing yang mengakibatkan berkurangnya aktivitas diluar rumah seperti sekolah, bekerja, dan beribadah. Banyak perusahaan yang dihimbau untuk melakukan WFH atau Work From Home yang artinya para pekerja melakukan pekerjaannya dari rumah. Namun banyak polemik dibalik diberlakukannya WFH ini, banyak jenis pekerjaan yang tidak bisa melakukan WFH karena mereka bukan bekerja pada sebuah perusahaan formal, seperti tukang ojek, pedagang asongan, supir taksi, dll.

Oleh karena itu pemerintah dihimbau untuk segera mengatasi kelumpuhan ekonomi ini, karena jika tidak akan mengakibatkan kemiskinan ditengah masyarakat. Center of Reform on Economics (CORE) mengusulkan tujuh kebijakan yang perlu diambil oleh pemerintah dalam rangka meminimalisir dampak ekonomi dari COVID-19.  Yang pertama itu mempercepat proses pengobatan dan pencegahan penularan yang lebih luas. Yang kedua, menurunkan harga kebutuhan pokok seperti listrik, BBM, dan air bersih untuk mengurangin beban biaya masyarakat. Yang ketiga, relaksasi pajak perlu diperluas ke sektor-sektor lain. Keempat, pemerintah memberikan bantuan langsung tunai kepada masyarakat yang kurang mampu yang terkena dampaknya secara langsung akibat COVID-19 ini. Kelima, BLT ini diharapkan dapat tepat sasaran dengan bantuan validasi data. Keenam, OJK memberlakukan kebijakan rescheduling dan refinancing utang swasta baik untuk UMKM maupun usaha-usaha yang menghadapi risiko pasar dan nilai tukar yang tinggi. Yang terakhir ketujuh, pemerintah perlu merumuskan kebijakan fiskal baru.

Jika pemerintah tidak segara melakukan usulan-usulan tersebut maka pertubuhan ekonomi Indonesia terancam bertumbuh 0 persen. Pemerintah sudah mempersiapkan cara untuk mengatasi masalah tersebut namun dengan skenario yang lebih berat, ekonomi Indonesia diprediksi hanya akan tumbuh 2,5% persen dan bahkan 0 persen. Dampak dari perekonomina yang tidak bertumbuh itu adalah bertambahnya pegangguran, baik karena tidak adanya lapangan pekerjaan ataupun karena di PHK karena krisis ekonomi yang terjadi saat ini. Oleh karena itu, pemerintah memastikan akan melindungi para pekerja yang terkena PHK akibat pandemi COVID-19. Salah satunya dengan mengeluarkan Program Kartu Pra Kerja. Pemerintah mengatakan para korban PHK di sektor informal dan UMKM, akan mendapat bantuan sebesar Rp 1.000.000 setiap bulannya selama empat bulan berturut-turut, dan juga mendapatkan pelatihan dengan biaya pelatihan sebesar Rp 1.000.000.

Namun dibalik semua skenario terburuk dari pertumbuhan ekonomi secara nasional. Yang terjadi di tengah masyarakat ini adalah kenaikan signifikan hari harga-harga dan susahnya stok bahan pokok penting yang merupakan salah satu dampak dari pandemi COVID-19 ini. Masyarakat ramai-ramai memborong bahan pokok penting dan mengakibatkan langkanya barang pokok terserbut. Oleh karena itu, pemerintah menyebar surat edaran untuk membatasi pembelian bahan pokok penting sebagai antisipasi panic buying. Di sisi lain, pemerintah pusat menjanjikan kesiapan pasokan pangan untuk masyarakat dengan harga terjangka, pemerintah mengatakan stok kebutuhan pokok masih dapat terpenuhi hingga bulan puasa dan lebaran nanti.

Oleh karena itu kita berdoa agar wabah ini dapat segera diatasi, untuk menghindari kelumpuhan ekonomi yang semakin parah. Kita sebagai masyarakat seharusnya patuh dengan ajuran dari pemerintah. Karena dengan kita melakukan apa yang pemerintah anjurkan, kita membantu pemerintah untuk segera mengasi wabah ini. Pasalnya, semua tidak akan berjalan lancar bila tidak ada kontribusi dari seluruh masyarakat.



Sumber Referensi:







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

Bahasa Inggris Bisnis 2 - Pertemuan 2